Young Steve Jobs on how to hire, manage, and lead people

Muhammad Sahputra
4 min readOct 14, 2018

Setiap orang memiliki interpretasi masing-masing terhadap sesuatu yang dilihat atau dibacanya. Perbedaan interpretasi tersebut bisa disebabkan oleh beragam alasan, salah satunya adalah berdasarkan pengalaman.

Saya akan coba meng-interpretasikan 1 menit pertama kata-kata Steve Jobs dari video diatas, tentu saja, berdasarkan pengalaman pribadi.

Talented Staff

The greatest people are self-managing. They don’t need to be managed. Once they know what to do, they’ll go figure out how to do it, and they don’t need to be managed at all.

Makna dari kata-kata diatas masih nyambung dengan kata-kata Steve yang lain,

It doesn’t make sense to hire smart people and tell them what to do; we hire smart people so they can tell us what to do.

Artinya, apabila orang-orang yang kita hire tersebut benar-benar cerdas, kita tidak perlu memberitahu mereka hal-hal yang seharusnya dilakukan, apalagi me-micro manage mereka. Mereka seharusnya self-managed. Ketika mereka paham apa yang harus dilakukan, mereka akan mencari tahu bagaimana cara merealisasikannya.

Namun kemampuan untuk self-managed tersebut membutuhkan sesuatu. Sesuatu itu datang dari leadernya, itu sebabnya point kedua merujuk pada leadership…

Leadership

What they need is a common vision, and that’s what leadership is. What leadership is having a vision, being able to articulate that so the people around you can understand it, and getting a consensus on a common vision.

Staff yang cerdas membutuhkan sesuatu yang disebut sebagai common vision, yaitu sebuah visi bersama serta transparan yang disampaikan oleh pemimpinnya.

Seorang pemimpin umumnya memiliki sebuah visi untuk direalisasikan bersama-sama anggota timnya. Namun pemimpin tersebut harus mampu mengkomunikasikan visi-nya kepada anggota-anggota timnya sehingga mereka memahami dengan baik visi perusahaan ataupun timnya. Common vision tersebut harus menjadi sebuah consensus yang dipahami oleh seluruh anggota tim tanpa terkecuali.

Ketika anggota tim sudah merasa nyaman dengan visi perusahaan, sudah tau dengan jelas apa yang ingin diraih oleh perusahaan, maka pada saat itulah mereka akan mampu menjadi self-managed.

Passionate People v.s Seasoned Professionals

We wanted people that were insanely great at what they did, but were not necessarily those seasoned professionals, but who had at the tips of their fingers and in their passion the latest understanding of where technology was and what we could do with that technology, and we wanted to bring that to lots of people.

Jangan salah, banyak terjadi dimana orang-orang yang diatas kertas memiliki pengalaman bertahun-tahun, ternyata justru tidak mampu mengikuti irama sebuah perusahaan seperti startup misalnya dimana mereka diharapkan menjadi tulang punggung perusahaan setelah bergabung namun ternyata performa mereka tidak seperti yang diharapkan.

Bahasanya Steve Jobs, those seasoned professionals were bozos, mereka-mereka itu justru ternyata (sorry) ‘tolol’.

Lebih baik memiliki staff yang memiliki passion tinggi atas pekerjaan mereka, dan memiliki kesungguhan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik.

Ibarat sebuah gelas, setengah isi setengah kosong seringkali lebih baik dibandingkan sebuah gelas yang telah terisi penuh. Ketika gelas tersebut kosong setengah, artinya masih ada ruang baginya untuk menampung air yang baru. Namun ketika gelas tersebut telah penuh, maka tidak ada pilihan lain kecuali menumpahkan apapun air yang dituangkan kedalam gelas tersebut.

Namun bukan berarti semua seasoned professional tidak mampu, ada juga yang bagus. Dalam kasus Apple, setelah beberapa kali kecewa dengan performa manager profesional yang seharusnya bisa memimpin sebuah perusahaan IT, pada akhirnya justru mereka mendapatkan individu yang tepat dengan latar belakang Non-IT, namun individu tersebut sangat passionate dalam pekerjaannya. Intinya, passion itu sangat penting dalam hal menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Initial Team Member

So the neatest things that happen is when you get a core group of, you know, ten great people, it become self-policing as to who they let into that group.

Initial tim member sangat crucial. Ketika sebuah perusahaan terutama yang dimulai dari nol tumbuh berkembang maka anggota-anggota awal akan menduduki posisi-posisi penting suatu saat nanti. Oleh sebab itu proses recruitment tidak boleh dilakukan sembarangan.

Ketika sebuah tim awal terbentuk dengan jumlah yang sedikit maka akan terbentuk dan tertanam sebuah kultur perusahaan. Karena jumlahnya masih sangat sedikit maka kultur perusahaan tidak terlalu sulit untuk diadopsi oleh masing-masing individu. Apalagi jika individu tersebut benar-benar fresh, baru lulus kuliah, siap untuk dibentuk oleh kultur perusahaan.

Hal menarik terjadi ketika tiba saatnya mereka diberikan tanggung jawab untuk membawa masuk orang lain kedalam sebuah tim — apalagi jika sudah diberikan pemahaman mengenai filosofi dibalik kultur perusahaan oleh pemimpinnya, maka mereka akan mencari orang-orang yang sesuai dengan kultur perusahaan.

Disadari atau tidak, dengan cara inilah kultur perusahaan akan menulari seluruh individu yang terlibat didalamnya. Itu sebabnya tim awal sangat penting: carilah individu-individu yang masih bisa dibentuk karena dari merekalah kultur perusahaan akan diturunkan pada individu-individu berikutnya.

Hiring and Culture Establishment

So I consider the most important job of someone like myself is recruiting.

Banyak yang berpikir recruitment adalah tugas HR. Memang benar, pada satu masa HR akan sangat berperan dalam proses recruitment. Namun jangan lupa, HR harus di-recruit juga. Maka sebenarnya tugas seorang pemimpin dalam hal recruitment sangat krusial karena mereka-merekalah yang akan menentukan orang-orang seperti apa yang akan dimasukan kedalam struktur tim awal.

Sejalan dengan poin initial team member diatas, maka bagi seorang Steve Jobs, salah satu tugas terpenting bagi role dia adalah rekrutasi anggota tim baru.

Banyak hal positif dapat dipelajari dari seorang pemimpin yang baik, Steve Jobs menurut saya adalah salah satunya. Poin-poin diatas tidak diperuntukan bagi para pemimpin sebuah perusahaan rintisan (startup) saja. Poin diatas dapat berlaku juga bagi para pemimpin sebuah divisi perusahaan, ataupun leader sebuah tim. So, layak dicoba.

Happy hiring, leading, and managing people :)

--

--